Artikel Populer

Alam Bukan Penyebab Terjadinya Bencana

Alam Bukan Penyebab Terjadinya Bencana

Admin Rabu, 30 Desember 2015 Tulisanku
Alam Bukan Penyebab Terjadinya Bencana

Alam Bukan Penyebab Terjadinya Bencana
Oleh: Hendro Noor Herbanto

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berakal.

Alam semesta beserta isinya diciptakan Tuhan dengan hukum atau sunatulah yang tetap dan tidak ada perubahan atas hukum-hukumnya tersebut dari dahulu saat pertama kali diciptakan lewat peristiwa 'big bang', sampai sekarang saat anda membaca tulisan ini dan sampai kelak dimusnahkan kembali oleh-Nya pada peristiwa hari kiamat, termasuk hukum yang terjadi pada ciptaan-Nya yang bernama manusia.

"Sebagai sunatulah yang (berlaku juga) bagi orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunatulah."
(QS. Al-Ahzab (33): 62)

Selain itu Allah juga menciptakan keseimbangan agar langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya tetap seimbang dan bumi tetap berputar pada porosnya (rotasi) yang menghasilkan pergantian waktu sehari semalam dalam 24 jam serta berputar mengelilingi matahari (revolusi) yang menghasilkan pergantian waktu dalam sekali putaran penuh sebanyak 365 hari atau pergantian waktu dalam satu tahun. Dan agar manusia tidak merusak keseimbangan dan tetap menegakkan keseimbangan itu dengan adil.

"Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan. Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu."
(QS. Ar-Rahman (55): 7-9)

Ya, kita semua inilah makhluk yang bernama manusia yang dimaksud untuk selalu menjaga keseimbangan dengan berbuat adil tanpa terkecuali dan tanpa memandang status, suku, agama, ras dan antar golongan. Makhluk yang menurut malaikat suka berbuat kerusakan dan pertumpahan darah di muka bumi ini.

Lalu, apakah yang dimaksud dengan keseimbangan itu? Keseimbangan dapat terjadi jika sisi kanan dan sisi kirinya mempunyai besaran yang sama atau sisi kanan dan sisi kirinya saling meniadakan dan menghasilkan angka kosong (0).

1 = 1 atau 1 - 1 = 0

Ya, angka nol (0) adalah angka keseimbangan. Angka nol itulah kita manusia sebagai makhluk yang nol (0). Angka dari perbuatan kita yang melakukan perbuatan baik atau buruk, yang akan dibalas sesuai perbuatan baik/buruknya itu, sehingga akan kembali ke angka keseimbangan.
Angka nol (0) adalah angka keseimbangan. Selain itu angka nol adalah angka yang diam dan siap menjadi potensi. Jika angka satu yang di sebelah kanan diibaratkan satu perbuatan baik, maka yang terjadi:

0 -> 1

Untuk kembali ke angka keseimbangan (0) maka dibutuhkan angka kebalikannya yang nilainya sama dengan perbuatan baiknya:

1 - 1 = 0

Demikian juga bila kita melakukan kejahatan, maka:

0 -> -1

Untuk kembali ke angka keseimbangan (0) maka dibutuhkan angka kebalikannya yang nilainya sama dengan perbuatan buruknya.

-1 + 1 = 0

Keseimbangan alam adalah tugas kita semua sebagai khalifah di muka bumi ini untuk menjaga, merawat dan melestarikannya, dan bukan untuk di rusak, di ambil kekayaan alamnya dengan keserakahan yang membabi-buta buat diri sendiri atau golongannya. Maka jangan salahkan alam jika ia akan kembali menyeimbangkan dirinya seperti keadaannya semula.

Jika kita lalai dan malah merusaknya, maka bisa di pastikan alam akan bereaksi terhadap kecurangan dan keserakahan manusia tersebut melalui berbagai bencana seperti banjir bandang karena penggundulan hutan, asap tebal karena kebakaran hutan, suhu bumi yang panas yang mengakibatkan es mencair di kedua kutub bumi, yang akan menimpa orang-orang yang merusaknya (berdosa) maupun terhadap orang-orang yang tidak merusaknya (tidak berdosa).

Ya, ada aksi pasti ada reaksi. Ada sebab pasti ada akibatnya.

Sebagai contoh terhadap pembukaan lahan dengan cara membakar hutan. Sebab dari aksi ini alam bereaksi dengan mengakibatkan kabut asap tebal yang bahkan sudah memakan korban manusia yang tidak berdosa karena kekurangan oksigen, pohon-pohon dan hewan-hewan banyak yang mati, hewan-hewan banyak yang lari ke perkampungan untuk mencari perlindungan dan makanan di perkampungan, dunia penerbangan banyak yang lumpuh karena asap tebal, dan banyak lagi bencana lainnya.

Contoh lainnya adalah penambangan di bumi Papua yaitu di tambang Freeport.

PT Freeport McMoran Indonesia (Freeport) melakukan aktivitas penambangan di Papua yang dimulai sejak tahun 1967 atau selama 42 tahun. Hasil tambang Freeport berupa tambang emas, perak, dan tembaga yang terbesar di dunia.

Penambangan Ertsberg dimulai pada Maret 1973 dan habis pada tahun 1980-an dan menyisakan lubang sedalam 360
meter.

Pada tahun 1988, Freeport mulai menambang Grasberg, sebuah cadangan raksasa lainnya, hingga saat ini.

Hasil dari eksploitasi kedua wilayah tersebut diatas, Freeport memperolah sekitar 7,3 juta ton tembaga dan 724,7 juta ton emas.

Sampai Bulan Juli 2005, lubang yang diakibatkan penambangan Grasberg mencapai diameter 2,4 kilometer yang meliputi luas 499 ha, dalamnya 800m, atau sama dengan ketinggian gedung
tertinggi di dunia yaitu Burj Dubai.

Diperkirakan terdapat 18 juta ton cadangan tembaga, dan 1.430 ton cadangan emas yang tersisa hingga rencana penutupan tambang pada 2041 nanti.

(Untuk informasi selengkapnya silahkan buka link berikut ini: https://m.facebook.com/Nanto.Jempolers.Indonesia/posts/184618871689817

Ingatlah! Alam akan mencari keseimbangannya kembali.

Ibarat luka borok yang terjadi pada kulit manusia, yang pasti akan sembuh jika di obati, menjadi kulit yang tertutup mulus kembali walau masih terdapat bekas lukanya, baik di obati dari luar tubuh maupun dari dalam tubuhnya.

Ya, yang di tambang di Freeport adalah hasil bumi yang tidak bisa di tutup kembali karena saking dalam dan luasnya penambangan yang dilakukan di sana.

Jika tidak bisa di obati dari luar, maka jangan salahkan alam jika ia akan mengobati dirinya sendiri dari dalam untuk menyeimbangkan diri kembali dengan bencana yang entah kapan dan di mana terjadinya yang kemungkinan besar akan banyak memakan korban jiwa baik dari orang-orang yang melakukan kerusakan tersebut maupun dari orang-orang yang tidak berdosa.

Maka benarlah firman Allah di dalam Al-Qur'an:

"Dan wahai kaumku! Penuhilah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan jangan kamu membuat kejahatan di Bumi dengan berbuat kerusakan."
(QS. Hud (11): 85)

"Oleh karena itu, Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barang siapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia. Sesungguhnya rasul Kami telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas. Tetapi kemudian banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di bumi."
(QS. Al-Ma'idah (5): 32)

"karena kesombongan (mereka) di bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu hanya akan menimpa orang yang merencanakannya sendiri. Mereka hanyalah menunggu (berlakunya) ketentuan kepada orang-orang yang terdahulu. Maka kamu tidak akan mendapatkan perubahan bagi Allah, dan tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi ketentuan Allah itu."
(QS. Fatir (35): 43)

"Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya."
(QS. Al-Anfal (8): 25)

Ya, dari keterangan di dalam ayat-ayat tersebut di atas, ternyata alam hanya ingin menyeimbangkan dirinya kembali dengan harmonis seperti sedia kala setelah dirusak oleh manusia dan alam bukan penyebab terjadinya bencana....


Semoga bermanfaat....wallahu 'alam bishahwab

Salam Hangat,
Hendro Noor Herbanto
(Penulis-Komposer-Pencipta Lagu-Praktisi Perbankan)

Ditulis @ Cileungsi Bogor - Indonesia, Rabu, 30 Desember 2015

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Kontak

Jawa Barat
081807993725 / 08128111963
5667A231
08128111963
heronoor@gmail.com

Jejaring Sosial

© Copyright 2017 Hendro Noor Herbanto. Oleh Webpraktis.com | sitemap