Artikel Populer

Belajar Tiga Timbangan Ala Socrates

Belajar Tiga Timbangan Ala Socrates

Admin Minggu, 29 November 2015 Tulisanku
Belajar Tiga Timbangan Ala Socrates

Sesungguhnya kita hidup di dunia ini, semata-mata hanya ingin melakukan perkataan yang benar, perbuatan yang baik dan banyak menebar manfaat bagi orang lain dan seluruh alam.

Hidup di dunia adalah hidup yang sementara, beda dengan hidup di akhirat nanti yang kekal abadi.

Semua perbuatan baik atau buruk yang dilakukan semua manusia di muka bumi ini akan dimintakan pertanggung jawabannya oleh Allah di akhirat kelak, apakah mendapatkan reward berupa surga yang penuh kenikmatan ataukah mendapatkan punishment berupa neraka yang penuh kesengsaraan.

Kali ini kita sama-sama belajar tiga timbangan ala Socrates yaitu bagaimana seharusnya kita menyaring informasi yang ada di sekitar kita baik informasi yang langsung kita dapatkan dari tatap muka dengan teman, tetangga atau dari surat kabar yang kita baca, maupun dari media elektronik dan internet serta media sosial. Dan jika ingin meneruskan informasi kepada siapapun orangnya harus membawa tiga timbangan ala Socrates tersebut agar kita semua selamat di dunia dan di akhirat.

Suatu hari, Socrates, seorang filosof yang dikenal bijaksana di jaman Yunani Kuno, didatangi seorang laki-laki yang langsung berkata, Tahukah Anda apa yang baru saja saya dengar mengenai teman anda?

Tunggu dulu, Potong Socrates. Sebelum memberitahukannya, aku ingin menanyakan tiga hal timbangan terlebih dahulu. Tolong sebutkan ketiga hal timbangan tersebut.

Maksud anda? tanya lelaki itu tak mengerti.

Socrates menjawab, Sebelum Anda mengatakannya, saya ingin bertanya, apakah yang anda katakan adalah sesuatu yang pasti membawa KEBENARAN?

Belum, jawab laki-laki itu. Saya baru saja mendengarnya, dan ingin memberitahukan kepada anda,

Baiklah, kata Socrates. Jadi Anda sungguh belum tahu apakah hal itu benar atau tidak?

Sekarang, saya bertanya, apakah yang akan anda katakan mengenai teman saya adalah sesuatu yang membawa KEBAIKAN?

Tidak, sebaliknya, ini mengenai hal yang buruk, jawab laki-laki itu.

Jadi, lanjut Socrates, Anda ingin mengatakan sesuatu yang buruk mengenai teman saya, padahal Anda tidak yakin kalau itu benar. Lalu apakah akan membawa KEMANFAATAN untuk saya, dan apa yang anda ingin beritahukan itu?

Tidak, sungguh tidak, jawab laki-laki tersebut.

Kalau begitu, tukas Socrates, Jika apa yang Anda ingin beritahukan kepada saya 'tidak benar', 'tidak baik', bahkan 'tidak bermanfaat' untuk saya, mengapa Anda memberitahukan kepada saya?

Ya, ucapan itu bagaikan anak panah, yang begitu terlepas dari busurnya tidak mungkin lagi bisa dikendalikan. Dan seringkali itu menyakiti orang lain yang mendengarnya, maka sebelum mengucapkannya, maka cobalah timbang terlebih dahulu dengan tiga timbangan ala Socrates tersebut.

Padahal Allah sudah seringkali membuat perumpamaan, petunjuk jalan yang lurus dan pembeda antara yang haq dan batil bagi orang-orang yang mau menggunakan akalnya (ulil albab), yaitu di buku manual bagi kita semua, yakni Kitab Suci Al-Qur'an.

Tetapi mengapa kita seringkali melewatkan informasi di dalam Al-Qur'an dan tidak mau mengambil pelajaran darinya? Padahal semua permasalahan manusia di muka bumi ini, jawaban dan solusi jalan keluarnya ada di dalam Al-Qur'an.

QS. Ali Imran (3): 7
Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang Muhkamat, itulah pokok-pokok Kitab (Al-Qur'an) dan yang lain Mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang Mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, "Kami beriman kepadanya (Al-Qur'an), semuanya dari sisi Tuhan kami." Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang yang berakal.

Bahkan Allah akan memberikan 'punishment' bagi orang-orang yang menyebarkan 'informasi sampah' seperti ini, dan bahkan jauh lebih kejam daripada pembunuhan.

QS. Al-Baqarah (2): 191
...Dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan....

QS. Al-Maidah (5): 32
...Bahwa barang siapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia. Sesungguhnya rasul Kami telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas. Tetapi kemudian banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di bumi.

Ya, hidup itu adalah memilih. Karena hanya manusia yang ditulari sifat berkehendak oleh Allah Sang Maha Berkehendak. Setiap pilihan ada konsekuensinya masing-masing, apakah ingin menebar banyak manfaat ataukah menebar banyak fitnah.

Ingatlah, hanya perbuatan kita yang membawa 'tiga timbangan ala Socrates' (kebenaran-kebaikan-kemanfaatan) yang di ganjar dengan pahala dan surga yang penuh kenikmatan, sedangkan perbuatan selain itu (salah-buruk-mudharat) yang akan diganjar dengan dosa dan neraka yang penuh dengan kesengsaraan.

Semoga bermanfaat....wallahu 'alam bishahwab


Salam Hangat,
HNH

Ditulis @ Cileungsi Bogor - Indonesia, 29 November 2015

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Kontak

Jawa Barat
081807993725 / 08128111963
5667A231
08128111963
heronoor@gmail.com

Jejaring Sosial

© Copyright 2017 Hendro Noor Herbanto. Oleh Webpraktis.com | sitemap