Artikel Populer

Jangan Sekadar Ikut-Ikutan

Jangan Sekadar Ikut-Ikutan

Admin Senin, 01 Agustus 2016 Tulisanku
Jangan Sekadar Ikut-Ikutan

Pernah berfikir seperti ini tidak, seandainya kita terlahir pada masa Nabi Ibrahim AS yang waktu itu kaumnya banyak yang menyembah berhala.
Atau kita terlahir pada masa Nabi Musa AS yang waktu itu kaumnya dipaksa untuk menyembah Raja Fir'aun yang mengaku sebagai tuhan.
Atau kita terlahir pada masa Nabi Isa AS yang waktu itu kaumnya mengkultuskan Beliau sebagai anaknya Tuhan.
Atau kita terlahir pada masa Nabi Muhammad SAW yang waktu itu kaumnya berada di zaman kegelapan jahiliah, jauh dari jalan yang lurus.
Apakah kita akan mengikuti ajakan nabi-nabi Allah tersebut yang diserahi tugas untuk menyampaikan kabar gembira berupa surga yang penuh kenikmatan akibat dari perbuatan baik dan memberi peringatan akan adanya Hari Akhirat yang penuh dengan penderitaan di dalam neraka akibat dari perbuatan buruk?
Ataukah kita seperti kaum yang tidak mau mengikuti ajakan dan seruan nabi-nabi Allah tersebut, sehingga kita termasuk ke dalam orang-orang yang merugi dan tersesat.
Di zaman tersebut kaumnya banyak mengerjakan perbuatan dosa dan kufur nikmat serta menyekutukan Allah dengan tuhan-tuhan yang lain. Mereka hanya mengerjakan ajaran dari nenek moyangnya saja. Mereka juga tidak mau beriman akan adanya hari yang sungguh berat bagi orang-orang mengingkari negeri Akhirat.
Apakah kita akan mempercayai risalah yang di bawa nabi-nabi Allah tersebut? Atau apakah kita akan menjadi kaum yang beriman ataukah kita memilih untuk tidak beriman?
Apa bedanya zaman dahulu yaitu zamannya nabi-nabi Allah dengan zaman sekarang?
Padahal Allah sudah sering kali mengirimkan utusan ke seluruh pelosok negeri, dan kaumnya tidak juga mau beriman. Kalaupun beriman hanya sedikit sekali yang mau mengikuti ajakan nabi-nabi Allah tersebut.
Padahal Allah sudah membekali kita dengan akal, telinga, mata dan hati untuk dapat berfikir, mendengar, melihat dan merasakan akan ciptaan Allah yang terhampar pada langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya termasuk apa yang ada pada diri kita sendiri sebagai makhluk yang kosong dan penuh dengan keseimbangan. Dan kita-pun ternyata lalai akan tanda-tanda Kebesaran Allah tersebut.
Padahal Allah sudah memberikan petunjuk, pedoman, pembeda antara yang haq dan batil, penawar/obat dari berbagai penyakit dengan suatu Kitab yang tertulis dimana isinya adalah perkataan Allah langsung, yaitu Al-Qur'anul Karim. Apakah kita mau mengambil pelajaran darinya?
Atau Al-Qur'an itu hanyalah bacaan biasa yang hanya dihafalkan, hanya dibaca tanpa arti dan makna, hanya dibaca dan didengar masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan. Hanya dibaca untuk dilombakan saja dan hanya sekedar bacaan yang numpang lewat serta tidak dicocokkan dengan ayat-ayat yang terhampar disekeliling kita (sunatullah).
Coba tanyakan pada diri kita sendiri, seandainya kita terlahir di zaman Nabi Ibrahim AS atau Musa AS atau Isa AS atau Muhammad SAW, apakah kita akan beriman dan termasuk orang-orang yang mendapatkan hidayah? Ataukah sebaliknya, kita menjadi kaum yang kafir tidak mau beriman dan termasuk ke dalam golongan orang-orang yang tersesat?
Seandainya, waktu sekarang ini tidak ada Kitab Suci Al-Qur'an sebagai ayat-ayat Qauliyah dan yang ada hanyalah ayat-ayat yang terhampar sebagai alam semesta saja sebagai ayat-ayat Kauniyah, apakah kita akan mendapatkan petunjuk hidayah jalan yang lurus atas ayat-ayat semesta yang ada pada langit dan bumi serta apa yang ada diantara keduanya termasuk apa yang ada pada diri manusia itu sendiri?
Apakah kita akan mencari tahu Tuhan sesungguhnya, seperti Nabi Ibrahim AS saat melihat matahari, bulan dan bintang? Ataukah kita juga menyembah berhala, dimana berhala itu benda mati dan tidak kuasa akan dirinya sendiri, dan kita termasuk menyekutukan Allah dengan benda mati?
Apakah kita juga akan menjadikan Fir'aun sebagai tuhan yang lain selain Allah, seperti zamannya Nabi Musa AS, dimana kita terpaksa menyembah Fir'aun karena kita ketakutan dibunuh olehnya jika tidak menuruti perintahnya?
Apakah kita juga akan mengkultuskan seseorang seperti zamannya Nabi Isa AS yang dikultuskan oleh kaumnya pada masa itu?
Atau apakah kita juga tidak mau beriman dan tersesat di jalan yang lurus, padahal kita misalkan hidup di zamannya Nabi Muhammad SAW yang berbudi pekerti yang luhur yang mengajak kepada jalan cahaya Allah tanpa paksaan, dan selalu mengajak untuk menyembah Allah saja?
Ya, sama saja jika kita hanya mengikuti apa yang nenek moyang kita kerjakan. Mengikuti dengan cara ikut-ikutan tanpa ilmu. Hanya menduga-duga saja tentang Allah dan negeri akhirat serta beragama tanpa menggunakan akal yang sehat.
QS. Al-Ma'idah (5): 104
Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Marilah (mengikuti) apa yang diturunkan Allah dan (mengikuti) Rasul." Mereka menjawab, "Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati nenek moyang kami (mengerjakannya)." Apakah (mereka akan mengikuti) juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?
Allah sudah menciptakan indera pendengaran, penglihatan dan hati untuk kita bisa menerima sinyal-sinyal dari-Nya. Ternyata kita lalai menggunakannya dan malah mempersekutukan Dia dengan tuhan-tuhan yang lain. Semuanya nanti akan diminta pertanggungjawabnya sama Allah.
QS. Al-Israa' (17): 36
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabannya.
Semoga bermanfaat....wallahu a'lam bishahwab

HNH
Ditulis @ Cileungsi Bogor - Indonesia Indonesia, 14 April 2015

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Kontak

Jawa Barat
081807993725 / 08128111963
5667A231
08128111963
heronoor@gmail.com

Jejaring Sosial

© Copyright 2017 Hendro Noor Herbanto. Oleh Webpraktis.com | sitemap