Artikel Populer

Maafkan Saya Nek,... Hukum Harus Tetap Ditegakkan!

Maafkan Saya Nek,... Hukum Harus Tetap Ditegakkan!

Admin Kamis, 22 Oktober 2015 Tulisanku
Maafkan Saya Nek,... Hukum Harus Tetap Ditegakkan!

Maafkan Saya Nek,... Hukum Harus Tetap Ditegakkan!
Oleh: Hendro Noor Herbanto

Mencermati kejadian akhir-akhir ini, dimana di dunia peradilan kita sedang disuguhkan beberapa kisah tentang kakek atau nenek yang terjerat kasus hukum karena dituduh mencuri.

Kali ini bukan cerita tentang perjuangan kakek atau nenek tersebut diatas, melainkan tentang kisah seorang hakim yang berani menegakkan hukum dengan cara yang bijaksana terhadap seorang nenek yang dituduh mencuri singkong di lahan suatu perusahaan.

Kisah ini terjadi sekitar tahun 2011 lalu di Sumatera Selatan, dimana seorang jaksa Pengadilan Umum (PU) menyampaikan tuntutannya terhadap seorang nenek yang terpaksa menjalani persidangan karena dituduh mencuri singkong di lahan milik perusahaan.

Sang hakim menyimak tuntutan jaksa dan apa yang dikatakan nenek itu dengan iba, bahwa beliau berdalih hidupnya sangat miskin, anak lelakinya sakit, sedangkan cucunya sedang kelaparan.

Manajer dari perusahaan tetap pada tuntutannya, ia berdalih bahwa apa yang dituntutnya itu bisa menjadi bahan peringatan dan pelajaran bagi warga lainnya.

Sang pengadil menghela nafas, karena tidak bisa berbuat banyak. Hukum harus tetap ditegakkan. Dengan berat hati ia berkata, "Maafkan saya nek..." katanya sambil memandang wajah sang nenek. "Saya tidak dapat membuat pengecualian hukum, hukum harus tetap ditegakkan, jadi Anda tetap di hukum. Saya mendenda Anda Rp. 1 juta dan jika Anda tidak mampu membayar, Anda harus masuk penjara selama 2,5 tahun seperti tuntutan jaksa."

Lemaslah nenek tersebut mendengar putusan hakim tadi. Tetapi nenek tersebut hanya bisa pasrah menerima. Jangankan membayar 1 juta, bahkan untuk makan esok hari saja ia sangat kesulitan.

Tiba-tiba sang hakim melepas topi toganya, ia membuka dompetnya dan mengambil uang Rp. 1 juta. Uang tersebut untuk membayar denda sang nenek dan dimasukkan ke dalam topi toganya, seraya berkata kepada semua orang yang hadir di pengadilan tersebut, "Saya atas nama pengadilan, juga menjatuhkan denda kepada setiap orang yang hadir di ruang sidang ini sebesar Rp. 50 ribu, sebab menetap di kota ini, tetapi membiarkan seseorang kelaparan sampai harus mencuri buat memberi makan cucunya. Saudara panitera, tolong kumpulkan dendanya dalam topi toga saya ini, lalu berikan uangnya kepada terdakwa."

Hadirin-pun tak ragu memasukkan uang ke dalam topi toga sang hakim, termasuk uang dari manager perusahaan yang menuntutnya.

Pulanglah sang nenek dengan wajah haru dan uang yang cukup untuk memberi makan cucunya nanti, sambil mengucapkan hamdalah dan terima kasih kepada sang juru pengadil karena sudah bisa menegakkan keadilan dengan bijaksana.

Demikianlah seharusnya kita meneladani sikap dan perbuatan sang hakim tadi, dengan tiga jalan yang lurus, yaitu: menegakkan kebenaran walau terasa pahit, melakukan kebaikan dimana saja-kapan saja-kepada siapa saja, serta membawa kemanfaatan bagi semua manusia dan juga seluruh alam.


Semoga bermanfaat....wallahu 'alam bishahwab

Salam Hangat,
Hendro Noor Herbanto
(Penulis-Komposer-Pencipta Lagu)

Ditulis @ Cileungsi Bogor - Indonesia
24 Maret 2015

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Kontak

Jawa Barat
081807993725 / 08128111963
5667A231
08128111963
heronoor@gmail.com

Jejaring Sosial

© Copyright 2017 Hendro Noor Herbanto. Oleh Webpraktis.com | sitemap