Artikel Populer

Masuk Surga Semudah Membalikkan Telapak Tangan?

Masuk Surga Semudah Membalikkan Telapak Tangan?

Admin Jum'at, 05 Februari 2016 Tulisanku
Masuk Surga Semudah Membalikkan Telapak Tangan?

Masuk Surga Semudah Membalikkan Telapak Tangan?
Oleh: Hendro Noor Herbanto

Perjalanan manusia di bumi ini bersifat sementara, karena dunia dan seisinya hanyalah kehidupan yang fana dan penuh dengan senda gurau serta permainan belaka.

Sejarah kehidupan manusia berasal dari ketiadaan, kemudian manusia hadir di muka bumi ini melalui proses kelahiran dari rahim masing-masing ibu. Lalu manusia akan menemui ajalnya dan nantinya dibangkitkan kembali oleh Tuhan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di dunia dahulu apakah akan mendapatkan surga ataukah neraka, sebelum semuanya kembali kepada Tuhan.

"Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu, lalu Dia menghidupkan kamu kembali. Kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan."
(QS. Al-Baqarah (2): 28)

Setiap manusia tanpa terkecuali terlahir dalam keadaan telanjang bulat dan tidak mengetahui apapun sewaktu dilahirkan.

Tidak membawa suatu apapun baik harta maupun benda kecuali bekal/potensi yang sudah ada dan melekat di dirinya, seperti akal, mata, telinga dan hati.

"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur."
(QS. An-Nahl (16): 78)

Dengan akalnya manusia bisa berpikir. Dengan matanya manusia bisa melihat. Dengan telinganya manusia bisa mendengar. Dan dengan hatinya manusia bisa memilih dan merasakan.

Semua potensi tersebut ada pada bayi yang baru lahir dan siap digunakan untuk proses kehidupan selanjutnya.

Bagaimanakah proses kehidupan selanjutnya itu? Apakah mudah di lalui dengan berdiam diri dan bermalas-malasan saja? Ataukah harus bekerja keras dan jatuh bangun untuk meraihnya?

Seperti yang Allah katakan di surat An-Nahl ayat 78 di atas, bahwa Allah mengeluarkan kita semua dalam perut ibu kita dalam keadaan tidak mengetahui suatu apapun.

Coba bayangkan saat seorang bayi sebelum di lahirkan. Calon bayi selalu berada di dalam rahim ibunya dengan kehangatan dan serba diberikan kemudahan agar bayi tetap tumbuh dan berkembang. Asupan makanan selalu tersedia pada air ketubannya.

Semuanya serba mudah dan serba tersedia agar calon bayi siap dilahirkan. Karena calon bayi tidak kuasa atas dirinya. Serba nyaman di dalam rahim dan sebagian besar waktunya dihabiskan dengan aktivitas tidur.

Sekarang coba perhatikan saat bayi terlahir ke dunia ini. Yang awalnya nyaman dan serba mudah tersedia seperti asupan makanan maupun bernafas di dalam rahim melalui "air ketuban", kini ia harus bernafas melalui hidung untuk menghirup oksigen di "udara" saat dilahirkan. Karena itu seorang bayi akan menangis sewaktu dilahirkan yang menandakan awal dimulainya babak baru berupa kesulitan setelah di dalam rahim mendapatkan berbagai kemudahan.

Tadinya bayi belum bisa berjalan, belum tahu bagaimana caranya berjalan. Seiring dengan usia yang bertambah dan diajarkan oleh ibu dan ayahnya, seorang bayi mulai belajar merangkak, memegang tembok, jika jatuh ia akan bangun lagi sehingga akhirnya bisa berjalan.

Kesulitan dalam proses berjalan pun dilaluinya tanpa protes ataupun berkeluh kesah. Jalani saja proses kesulitan itu karena ia akan berganti dengan kemudahan yaitu yang akhirnya bisa berjalan. Sampai sekarang ini saat anda membaca tulisan ini, kita semua pasti sudah diberikan berbagai kemudahan dan sudah terbiasa berjalan. Bisa kemanapun yang kita mau dengan berjalan.

Demikian juga saat kita berproses belajar naik sepeda. Pasti awalnya sulit. Harus jatuh dari sepeda sehingga dengkulnya luka berdarah. Dan sekarang lihat, kita bisa naik sepeda dengan mahirnya. Coba bayangkan jika kita tidak mau bersusah payah belajar bersepeda, pasti sekarang kita tidak bisa naik sepeda. Bahkan sepeda motor pun kita bisa mengendarainya dengan lancar dan harus dimulai dengan keseimbangan dalam menguasai sepeda. Tidak ada seorangpun yang bisa mengendarai sepeda motor tanpa bersepeda pada awalnya.

Jadi hidup itu jangan bermalas-malasan. Hidup itu harus dijalani dengan kerja keras, dan pantang menyerah. Kegagalan adalah hal yang biasa. Jatuh dan bangun akan selalu silih berganti mewarnai kehidupan ini.

Terus asah kemampuan dan potensi diri agar lekas bangkit dengan semangat yang membara.

Ya, semua manusia tanpa terkecuali dan tanpa memandang status, suku, agama, ras dan antar golongan pasti diberikan kesulitan-kesulitan hidup yang berguna untuk dirinya di tahap dan proses kehidupan selanjutnya di dunia.

Allah membungkus 'kemudahan' dengan 'kesulitan' agar manusia bisa menggunakan semua potensinya tersebut melalui akal, penglihatan, pendengaran dan hatinya di jalan yang benar, yang baik dan yang bermanfaat bahwa tidak ada yang sia-sia atas ciptaan-Nya bagi dirinya, orang banyak dan seluruh jagat raya, sehingga kita pun percaya akan pertemuan dengan-Nya kelak di hari akhirat.

Allah menciptakan semua ciptaan-Nya tersebut bukan dengan main-main, tanpa arti dan tanpa makna sama sekali.

"Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?"
(QS. Al-Mu'minuun (23): 115)

Seperti yang pepatah katakan, "Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian."

Inilah kasih dan sayang Tuhan semesta alam yang memberikan hidup pada semua manusia tanpa membeda-bedakan warna kulit, jenis kelamin, suku dan bangsa agar bisa menghantarkan semua manusia ke akhir yang baik sebelum kembali kehadirat-Nya.

Siapapun orangnya yang ingin mengharapkan akhir yang baik, maka ia harus bisa menghadapi ujian dan cobaan serta melewati berbagai rintangan, tantangan, hambatan, kerja keras, pantang menyerah, jatuh bangun, bersakit-sakit, sabar, ikhlas, syukur, tawakal, istiqamah dan penuh dengan pengorbanan.

Ya, ternyata untuk memasuki surga-Nya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.

Maka benarlah firman Allah SWT:
"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, "Kami telah beriman" dan mereka tidak diuji?"
(QS. Al-Ankabut (29): 2)

"Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, "Kapankah datang pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat."
(QS. Al-Baqarah (2): 214)


Semoga bermanfaat....wallahu 'alam bishahwab

Salam Hangat,
Hendro Noor Herbanto
Penulis | Komposer | Pencipta Lagu | Praktisi Perbankan

Ditulis @ Cileungsi Bogor - Indonesia, Jum'at, 5 Februari 2016

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Kontak

Jawa Barat
081807993725 / 08128111963
5667A231
08128111963
heronoor@gmail.com

Jejaring Sosial

© Copyright 2017 Hendro Noor Herbanto. Oleh Webpraktis.com | sitemap