Artikel Populer

Memahami Cara Kerja Keseimbangan (Keadilan)

Memahami Cara Kerja Keseimbangan (Keadilan)

Admin Senin, 14 Desember 2015 Tulisanku
Memahami Cara Kerja Keseimbangan (Keadilan)

Sesunggungnya pada penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (sunatullah/hukum-hukum Allah) bagi orang-orang yang berakal (ulul albab).

Siapakah orang-orang-orang yang berakal itu? Yaitu orang-orang yang selalu memikirkan ciptaan Allah sambil berdiri, duduk dan dalam keadaan berbaring seraya berkata: "Tiada yang sia-sia atas ciptaan-Mu ini ya Allah, maka peliharalah kami dari siksa api neraka."

Semua manusia sebenarnya adalah satu saudara dan satu keturunan dari Nabi Adam A.s., atau yang sering disebut sebagai Bani Adam.

Semua manusia sejak jaman Nabi Adam A.s. sampai dengan nabi akhir jaman yaitu Nabi Muhammad Saw tinggal di sebuah planet yang bernama planet bumi.

Semua manusia yang tinggal di bumi ini mendapatkan sumber energi yang sama yaitu matahari, dimana bumi mengelilingi matahari (berevolusi) dalam sekali putaran sebanyak 365 hari atau dalam satu tahun. Dalam satu tahun biasa diabadikan dengan satuan angka, misal tahun yang sekarang kita alami adalah tahun 2016.

Semua manusia juga mendapatkan cahaya bulan yang dipantulkannya dari sinar matahari, dimana perputaran bulan dari bulan sabit menjadi bulan purnama dan kembali menjadi bulan sabit yang menandakan perjalanan semua manusia di bumi sebanyak 30 hari atau sering disebut dalam satu bulan. Disamping itu bulan juga memberi andil pada pasang surutnya air laut. Bulan-pun dalam setahun berjumlah 12 bulan.

Semua manusia juga mendapatkan sunatullah pada pergantian malam dan siang, dimana dalam satu putaran bumi berputar pada porosnya sebanyak 12 jam pada malam hari dan 12 jam pada siang hari (berotasi) yang dinamakan dengan satu hari penuh. Hari-pun dalam satu minggu berjumlah tu7uh hari.

Dalam satu hari atau silih bergantinya malam dan siang, bisa juga dinamakan dalam 24 jam. Satu jam bisa juga dinamakan 60 menit. Satu menit bisa juga dinamakan 60 detik.

Begitulah cara kerja perhitungan waktu di bumi yang menjadikan malam, siang, bulan dan matahari dapat bekerja berdasarkan waktu yang tercatat sangat rapi, teliti, akurat dan seimbang berdasarkan sunatullah/hukum-hukum Allah, agar perbuatan manusia baik perbuatan baik maupun perbuatan jahat dapat tercatat dalam semua kamera pengawas yang berjalan dalam hitungan waktu, agar kelak di akhirat semua manusia tidak dapat mengelak dan memprotes keputusan Allah untuk menghisab dan memasukkan kita ke dalam surga akibat perbuatan baik di dunia dan memasukkan kita ke dalam neraka akibat perbuatan jahat di dunia dahulu.

Misalkan sewaktu hidup di dunia, ada pedagang telur di pasar yang berbuat curang kepada pembelinya untuk mengurangi timbangan. Kejadiannya di catat dalam satuan waktu sebagai berikut:

Fulan A (pedagang) pada hari Minggu pagi, tanggal 25, bulan Agustus, tahun 2015, jam 7 lewat 19 menit dan 4 detik, telah berbuat kejahatan yaitu melakukan tindakan kecurangan terhadap Fulan B (pembeli), dengan cara menambahkan alat pemberat sebanyak 100 gram ke alat pemberat timbangan bagi keuntungan si Fulan A (penjual), sehingga Fulan B (pembeli) dirugikan. Si Fulan B (pembeli) seharusnya mendapatkan 1 kg telur yang dibelinya, tetapi karena dicurangi si Fulan A (penjual), ia hanya mendapatkan telur seberat 900 gram saja.

Demikian juga jika kita melakukan kebaikan di muka bumi ini, misalkan kita mengajak untuk berbuat adil, membantu fakir miskin dan anak yatim dengan harta, tenaga maupun waktu. Saling menasehati dalam kebenaran (haq) dan kesabaran.

Berbuat-lah amar ma'ruf dan nahi munkar. Lakakukan-lah kebaikan kepada siapapun tanpa memandang status, suku, agama, ras dan antar golongan. Atau dimanapun kita berada atau dalam kondisi apapun kita.

Jangan-lah kita berbuat sebaliknya, misalkan sedang berada dalam kondisi di atas (kaya) sehingga kita demikian serakahnya akan harta, kedudukan dan kecintaan pada dunia, sehingga kita berbuat tidak adil, tidak menyantuni anak yatim dan menghardik peminta-minta dengan kata-kata yang kasar, menuruti hawa nafsunya dengan menindas yang lebih lemah, memakan harta benda orang lain maupun orang banyak demi keuntungan dirinya sendiri dan golongannya.

QS. An-Nisaa' (4): 135
Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.

Allah Yang Maha Perkasa Lagi Maha Bijaksana di dalam menetapkan sunatullah/hukum-hukum-Nya berjalan pada semua ciptaan-Nya di langit dan di bumi dan apa yang ada diantara keduanya termasuk pada diri manusia itu sendiri tanpa terkecuali.

Hukum Alam atau Sunatullah atau Hukum-hukum Allah yang terbentang sebagai ayat-ayat Kauniyah, bekerja tidak hanya untuk umat Islam saja, melainkan bekerja pada semua makhluk-Nya di muka bumi ini tanpa terkecuali dan juga bekerja pada alam semesta.

Hukum Sebab-Akibat, Gaya Gravitasi, Hukum Kekekalan Energi, Hukum Resonansi adalah hukum alam.

Nuklir, atom, elektromagnetik, ekosistem, sosial-politik, budaya, ekonomi dan semua hukum yang berada disekitar kita bekerja berdasarkan 'hukum keseimbangan'.

Jika alam sekitar kita mengalami ketidakseimbangan atau ketidakadilan, maka ia dengan sendirinya akan 'mencari jalan' secara alamiah untuk menyeimbangkan diri lagi.

Banjir bandang, tanah longsor, gunung meletus, tsunami, angin topan, perampokan, pencurian, pembunuhan, ketidakadilan, penyakit, demonstrasi, bangkrutnya rezim ekonomi-politik, dan semua peristiwa yang ada di sekitar kita, tak lebih dan tak bukan dari sebuah mekanisme apa yang dinamakan keseimbangan yang dinamis.

Sebagai suatu ketetapan yang tidak pernah berubah sedikitpun, sunatullah/hukum-hukum Allah bekerja saat pertama kali diciptakan pada peristiwa 'big bang', sampai sekarang saat anda membaca tulisan ini dan kelak dihancurkan kembali oleh-Nya pada peristiwa hari kiamat.

QS. Al-Fath (48): 23
Sebagai suatu sunatullah yang telah berlaku sejak dahulu kala, kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan bagi sunatullah itu.

QS. Ar-Rahman (55): 7
Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keseimbangan).

QS. Al-Mulk (67): 3
Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?

QS. Al-Infithaar (82): 7
Yang telah menciptakan kamu, lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)-mu seimbang.

Begitulah seluruh alam bekerja sesuai hukum keseimbangan. Barang siapa menabrak sistem keseimbangan tersebut, maka ia akan 'terpental' seiring dengan besarnya usaha yang ia lakukan. Demikian pula sebaliknya, barangsiapa 'menyatu' dalam harmoni keseimbangan alam semesta, maka ia akan memperoleh balasan yang besarnya berkali-kali lipat dibandingkan usaha yang ia lakukan.

Dan Allah mengistilahkan di dalam Al-Qur'an bahwa: barangsiapa berbuat kejahatan, maka kejahatannya akan kembali kepada dirinya sendiri. Dan barangsiapa berbuat kebaikan, maka kebaikannya akan kembali kepada dirinya, bahkan balasan kebaikannya berlipat ganda. Itulah sunatullah/hukum-hukum Allah, yang tidak akan berubah sampai hancurnya pada hari akhir nanti.

QS. Al-Qashash (28): 84
Barangsiapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barangsiapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan.

QS. Al-Mukmin (40): 40
Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat (menabrak keseimbangan), maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barangsiapa mengerjakan amal kebajikan (harmoni dalam keseimbangan) baik laki-laki maupun perempuan, sedang dia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rizeki di dalamnya tanpa perhitungan lagi.

Orang yang berbuat jahat, melakukan kejahatannya melalui sunatullah. Demikian pula dengan orang yang berbuat baik, melakukan kebaikannya juga di dalam sunatullah. Apakah artinya Allah mengizinkan orang berbuat jahat? Ya, tentu saja. Jika tidak diizinkan Allah, pasti kejahatan tidak akan terjadi. Tetapi ingat, 'diizinkan' bukan berarti 'di-ridhai-Nya'. Siapapun yang berbuat jahat, maka ia akan memperoleh balasan sesuai dengan kejahatannya. Dan siapapun yang berbuat baik, maka ia akan memperoleh balasan sesuai dengan kebaikannya secara berlipat ganda. Semua tetap bekerja di dalam hukum keseimbangan.

Apakah orang yang mencuri, korupsi, mengambil hak orang lain yang bukan haknya, membunuh, berlaku berat sebelah, dan kejahatan lainnya di muka bumi ini diizinkan oleh Allah? Ya, tentu saja diizinkan. Jika tidak diizinkan, pasti ia tidak akan bisa melakukan kejahatan tersebut diatas. Tetapi, dari perbuatan jahatnya itu, ia akan menuai konsekuensi kelak di akhirat dari sunatullah/hukum-hukum Allah yang bekerja.

Jadi begitulah iblis bekerja berdasarkan sunatullah. Iblis telah diizinkan Allah untuk merayu manusia untuk berbuat kejahatan. Iblis-lah aktor utama dibalik kejahatan tanpa kita sadari. Tetapi harap diingat! Sunatullah bekerja untuk memberikan balasan yang setimpal kepadanya. Kapan terjadinya balasan tersebut? Bisa saat ini. Bisa hari ini. Bisa besok. Bisa lusa. Bisa minggu depan. Bisa bulan depan. Bisa tahun depan. Bisa saat kematian datang menjemputnya. Atau kelak di alam akhirat berupa balasan yang 'berlipat ganda besarnya'.

Semakin lama tertundanya balasan, semakin besar akibatnya. Coba sekarang perhatikanlah contoh berikut:

Ketika ada sekelompok orang yang merusak hutan, sesaat setelah hutan tersebut ditebangi, alam akan membalasnya dengan suhu udara yang panas dan kering.

Jika ini kondisi ini tidak segera diatasi, misalnya dengan penanaman kembali (reboisasi), maka tahun depan balasan atas kondisi panas dan kering tersebut akan lebih besar lagi. Mungkin akan terjadi kondisi kekeringan di daerah tersebut.

Jika kondisi ini terus dibiarkan kembali tahun berikutnya, maka akan terjadi tanah longsor. Kemudian banjir bandang, dan seterusnya yang mana semakin lama tertundanya balasan yang diberikan alam akan semakin besar pula konsekuensinya yang harus diterima oleh daerah dekat hutan tersebut, sampai alam mendapatkan keseimbangan yang baru seperti semula.

Jika ada orang yang berbuat dosa, dan tidak segera bertaubat kepada Allah, maka ia sedang mempersiapkan balasan yang lebih besar di masa depannya (akhirat).

Sesungguhnya manusia bebas berbuat apa saja di dunia ini karena manusia ditulari sifat berkehendak sama Allah Yang Maha Berkehendak. Manusia bebas menentukan pilihannya, apakah memilih berbuat kebaikan yang mendapatkan reward berupa surga ataukah memilih berbuat kejahatan yang akan mendapatkan punishment berupa neraka di hari penghisaban kelak.

Setiap diri akan bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.

Barangsiapa yang bisa memahami sunatullah/hukum-hukum Allah terhadap neraca keadilan dengan sempurna, dan mengikuti cara kerjanya, insya Allah, dia akan selamat di dunia maupun di akhirat. Dan barangsiapa yang tidak belajar memahami sunatullah/hukum-hukum Allah terhadap neraca keadilan dan kemudian menabrak mekanisme keseimbangannya, maka sesungguhnya ia sedang menyiapkan penderitaan yang akan menyengsarakannya di kemudian hari.

Hidup di dunia ini hanya sementara saja dan hanya berlangsung satu kali, sedangkan hidup yang kekal abadi hanya ada di alam akhirat nanti. Hanya hidup di dunia saja yang bisa memilih, maka pilihlah yang terbaik buat bekal kita di akhirat nanti, karena sesungguhnya di alam akhirat tidak ada lagi yang dinamakan memilih, yang ada hanyalah 'balasan' dari perbuatan kita dahulu di dunia.

QS. Al-Mudatstsir (74): 37-38
Bagi siapa saja di antaramu yang berkehendak maju atau mundur. Tiap-tiap diri bertanggungjawab atas apa yang telah diperbuatnya.


Semoga bermanfaat....wallahu 'alam bishahwab

Sumber:
  1. Kitab Suci Al-Qur'an
  2. Buku: Salah Kaprah Dalam Beragama Islam; Karya Agus Mustofa
  3. Sumbang saran dan diskusi dengan istri

Salam Hangat,
Hendro Noor Herbanto

Ditulis kembali @ Cileungsi Bogor - Indonesia, 25 Agustus 2015

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Kontak

Jawa Barat
081807993725 / 08128111963
5667A231
08128111963
heronoor@gmail.com

Jejaring Sosial

© Copyright 2017 Hendro Noor Herbanto. Oleh Webpraktis.com | sitemap