Artikel Populer

Menangis Semalaman Saat Menerima Ayat Tentang Kebesaran-Nya

Menangis Semalaman Saat Menerima Ayat Tentang Kebesaran-Nya

Admin Jum'at, 08 Januari 2016 Tulisanku
Menangis Semalaman Saat Menerima Ayat Tentang Kebesaran-Nya

Menangis Semalaman Saat Menerima Ayat Tentang Kebesaran-Nya
Oleh: Hendro Noor Herbanto

Pada suatu ketika di saat Bilal telah selesai mengumandangkan adzan subuh, tidak di dapatinya Rasulullah SAW berada di masjid.

Biasanya, sebelum adzan Subuh selesai, Rasulullah SAW sudah berada di dalam masjid untuk bersiap-siap menjadi imam shalat Subuh berjamaah bersama sahabatnya.

Namun, kali ini tidak seperti biasanya Rasulullah SAW belum juga hadir meskipun Bilal sudah menyelesaikan kalimat terakhir adzannya. Ditunggu beberapa saat oleh Bilal dan para sahabat, beliau ternyata belum datang juga.

Para sahabat dan Bilal pun saling menanyakan keberadaan Rasulullah SAW. Karena khawatir terjadi sesuatu, akhirnya Bilal memutuskan untuk menjemput ke rumah beliau yang kebetulan rumahnya bersebelahan dengan masjid tersebut.

Sambil mengucapkan salam, pintu rumah nabi diketuk-ketuk oleh Bilal. Tidak berlangsung lama ada jawaban salam kembali dari dalam rumah nabi. Kemudian nabi membukakan pintu rumahnya dan mempersilakan Bilal untuk masuk.

Apakah Yang dilihat oleh Bilal? la melihat nabi dalam keadaan yang sangat mengharukan. Air mata berlinangan di pipi beliau. Matanya sembab, menunjukkan betapa beliau telah cukup lama menangis, mungkin semalam.

Karena khawatir melihat kondisi nabi seperti itu, maka Bilal pun bertanya kepada beliau. "Ada gerangan apakah, sehingga engkau menangis seperti itu, ya nabi Allah? Apakah nabi sakit? Ataukah nabi ditegur oleh Allah? Ataukah ada kejadian hebat lainnya?"

Maka, Rasulullah SAW menjawab, "Bahwasanya semalam saya telah menerima wahyu dari Allah." Lalu beliau membacakan wahyu tersebut kepada Bilal:

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal (ulul albab); (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab api neraka."
(QS. Ali-Imran (3): 190-191)

Bisa dibayangkan ekspresi muka Bilal pada saat itu. Barangkali, dia tidak bisa mengerti dan tidak habis pikir, kenapa Rasulullah SAW bisa menangis sehebat itu ketika menerima wahyu tersebut. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya.

Apalagi, kalau kita baca dua ayat Ali Imran tersebut, tidak ada nada menegur, atau memerintah untuk menjalankan kewajiban tertentu dari Allah, misalnya.

Ayat tersebut, lebih mengedepankan tentang penciptaan alam semesta dan sikap seorang ilmuwan (ulul albab) yang selalu berpikir dalam memahami fenomena alam semesta ketimbang sebuah perintah untuk beribadah. Tetapi kenapa hati sang nabi sampai bergetar demikian rupa, sehingga tak mampu lagi membendung air matanya?

Ternyata ayat tersebut turun setelah Rasulullah SAW melakukan Isra dan Mi'raj dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha lalu menuju ke langit yang ke tujuh, yaitu ke Sidratilmuntaha. Beliau melihat ciptaan Allah Yang tiada terkira besar dan indahnya.

Ya, beliau terpesona di Sidratilmuntaha saat melihat malaikat Jibril dan sebagian tanda-tanda kebesaran Tuhannya yang paling besar.

"Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.
(QS. Al-Isra (17): 1)

"Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain. (Yaitu) di Sidratilmuntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratilmuntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatan (Muhammad) tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh, dia (Muhammad) telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling besar."
(QS. An-Najm (53): 13-18)

Peristiwa Isra dan Mi'raj terjadi pada saat Rasulullah SAW sedang berada pada kondisi yang sulit dan memayahkan beliau di saat menyampaikan dakwahnya.

Isra Miraj adalah jamuan langsung yang nyata dari Allah, untuk menghibur hati Rasulullah SAW dan pengganti dari apa yang dialami beliau ketika berada di Thaif.

Sebelum peristiwa Isra Miraj terjadi, Rasulullah SAW terus mengalami berbagai macam ujian yang sangat berat. Mulai dari embargo ekonomi hingga dikucilkan dari kehidupan sosial kemasyarakatan yang dilakukan oleh Kaum Quraisy terhadap Bani Hasyim dan Bani Muthalib.

Kemudian cobaan yang sangat berat diterima oleh Rasulullah SAW adalah meninggalnya orang-orang terdekat beliau yang sangat dikasihinya dalam waktu yang berdekatan, yaitu meninggalnya pamannya Abu Thalib bin Abdul Muthalib serta istrinya tercinta Siti Khadijah yang selalu menemaninya dan mendukungnya dengan jiwa, raga dan hartanya dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW. Lalu hingga pengusiran, penolakan dan penghinaan kepada beliau dari apa yang di dakwahkan kepada penduduk kota Thaif.

Ya, hati Rasulullah SAW sampai bergetar hebat di saat beliau mengingat kembali kala terpesona di Sidratilmuntaha dan melihat langsung sebagian tanda-tanda kebesaran Allah yang paling besar hingga beliau menangis semalaman.

Ya, Sang Ulul Albab yaitu nabi Muhammad SAW menyadari dan memahami bahwa perjuangan yang berat yang beliau rasakan saat berdakwah telah tergantikan saat beliau melihat dan menyaksikan langsung ciptaan Tuhan Yang Maha Besar di langit ke tujuh yaitu di Sidratilmuntaha dimana di dekatnya ada surga tempat tinggal.

Marilah kita ambil hikmah dan pelajarannya atas perjuangan dan pengorbanan hidup beliau di dalam berdakwah untuk menyampaikan kabar gembira dan peringatan bagi semua manusia yaitu ummatnya tanpa terkecuali.

Bahwasanya ujian dan cobaan yang silih berganti yang kita rasakan ternyata tidak seberat dan sesulit yang pernah Rasulullah SAW rasakan. Dan yakinlah bahwa bersama kesulitan itu pasti ada kemudahan. Sungguh bersama kesulitan pasti akan selalu berganti dengan kemudahan nantinya, layaknya bumi berputar pada porosnya (rotasi) yang menghasilkan malam untuk beristirahat dan siang untuk berusaha.

Dan sesungguhnya kita semualah yang dimaksud oleh Allah sebagai orang-orang yang berakal itu seperti yang Rasulullah SAW teladankan dan yang Dia katakan di dalam Al-Qur'an di surat Ali Imran ayat 190 & 191 di atas, yaitu menjadi manusia yang mau berpikir dengan kesadarannya sendiri untuk dapat bertafakur (memperhatikan) tanda-tanda kebesaran Tuhan di langit dan di bumi dan apa yang ada di antara keduanya dan apa yang ada pada diri manusia itu sendiri, sehingga akhirnya bisa memahami dengan hati yang bersih untuk selalu berdzikir (mengingat) Allah dimanapun dan kapanpun serta bagaimanapun, bahwa tiada yang sia-sia atas semua ciptaan-Nya tersebut yang kemudian bisa menjadi hamba-hamba-Nya yang tersungkur di dalam sujud yang panjang yang membasahinya dengan linangan air mata.


Semoga bermanfaat....wallahu 'alam bishahwab

Salam Hangat,
Hendro Noor Herbanto
Penulis | Komposer | Pencipta Lagu | Praktisi Perbankan

Ditulis @ Cileungsi Bogor - Indonesia, Jum'at, 8 Januari 2016

Komentar

uma || Rabu, 20 Januari 2016

Tulisan yang Inspiratif, menggugah relung hati yang paling dalam bahwa dunia tak seindah surga, mantap mas Hendro, JazakAllah khoir

Tambahkan Komentar

Kontak

Jawa Barat
081807993725 / 08128111963
5667A231
08128111963
heronoor@gmail.com

Jejaring Sosial

© Copyright 2017 Hendro Noor Herbanto. Oleh Webpraktis.com | sitemap