Artikel Populer

Para Pencari Tuhan

Para Pencari Tuhan

Admin Sabtu, 02 September 2017 Tulisanku
Para Pencari Tuhan

Ada yang mengusik keingintahuan saya tentang penyebutan Nabi Ibrahim pada duduk tahiyat akhir dalam salat yang penyebutannya disandingkan dengan Nabi Muhammad Saw.

Demikian pula pada do'a Iftitah yang merupakan do'a-nya Nabi Ibrahim yang diabadikan dalam salat yang dilakukan setelah niat salat dan takbiratul ihram. Seperti tertulis di dalam Al-Qur'an:

QS. Al-Anam (6): 7
Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik (menyekutukan Tuhan).

Kenapa Allah SWT mengabadikan nama Nabi Ibrahim di dalam salat ya? Apa istimewanya sehingga namanya bersanding dengan Rasulullah Saw? Di awal salat ada doanya, dan di akhir salat ada namanya. Yuk sama-sama kita coba cari tahu dan semoga kita mendapatkan kepahaman.

Kita terlahir di dunia ini pada dasarnya sebagai bayi yang suci atau fitrahnya sebagai makhluk yang nol (kosong) belum ada dosanya. Dosa terjadi jika kita sudah akhil baliq yaitu jika kita sudah tahu dan paham mana yang baik dan mana yang buruk dan sudah dikerjakan dalam bentuk perbuatan. Jika baru sekedar niat jahat maka tidak dianggap sebagai dosa, beda dengan niat yang baik, yang dicatat sebagai satu kebaikan berpahala.

Nabi Ibrahim AS mempunyai seorang ayah yang menyembah berhala. Bahkan ayahnya sendiri adalah tukang pembuat berhala. Dari lahir, masa kecilnya dan masa remajanya dihabiskan dengan lingkungan keluarga dan masyarakat yang menyembah berhala.

Pada suatu ketika, saat sudah beranjak dewasa atas hidayah dari Allah SWT, Nabi Ibrahim terusik hati kecilnya dan berpikir, kenapa masyarakat di sekitarnya menyembah berhala? Bukankah berhala itu benda mati yang tidak bisa mengabulkan doa orang yang berdoa kepadanya, tidak bisa memberi kemanfaatan dan kemudharatan buat orang yang menyembah berhala tersebut.

Akhirnya pada suatu ketika, di malam hari yang sunyi, Nabi Ibrahim ingin membuktikan rasa keingintahuannya terhadap berhala-berhala tersebut. Ia berasumsi berhala adalah benda mati dan bukan benda yang hidup. Akhirnya dihancurkanlah semua berhala-berhala tersebut sampai berantakan dan hanya disisakan satu berhala yang terbesar dengan maksud memberi mereka pelajaran.

QS. Al-Anbiya (21): 58
Maka dia (Ibrahim) menghancurkan (berhala-berhala itu) berkeping-keping, kecuali yang terbesar (induknya); agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.

Terbuktilah asumsi Nabi Ibrahim bahwa berhala adalah benda mati yang tidak kuasa atas dirinya sendiri.

Esok paginya, gemparlah seluruh penduduk kota karena tuhan-tuhan sesembahannya hancur berantakan. Mereka saling menanyakan satu sama lain tentang siapakah yang berani menghancurkan tuhan-tuhan mereka? Lalu mereka mencurigai Nabi Ibrahim karena selama ini selalu saja menyeru untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Esa. Kemudian Nabi Ibrahim berkata, "Coba kalian tanyakan saja kepada berhala yang paling besar disana!" sambil menunjuk berhala yang ia sisakan.

QS. Al-Anbiya (21): 62
Mereka bertanya, Apakah engkau yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?

Dalam hati kecil orang-orang tersebut sebenarnya mereka menyadari bahwa berhala tuhannya mereka adalah benda mati yang tidak kuasa atas dirinya sendiri dan tidak bisa berkata-kata. Tetapi karena kebodohan dan kesombongannya, mereka tetap berada dalam kesesatan yang nyata.

QS. Al-Anbiya (21): 63
Dia (Ibrahim) menjawab, Sebenarnya (patung) besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada mereka jika mereka dapat berbicara.

Pada kesempatan yang lain, Nabi Ibrahim terus mencari tahu tentang Tuhan. Apakah Dia itu adalah bintang-bintang yang berkilauan cahayanya? Apakah Dia itu bulan di malam hari yang cahayanya menyejukkan hatinya? Dan apakah Dia itu matahari yang begitu besar dan menjadikan siang terang benderang?

QS. Al-Anam (6): 76 78
Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, Inilah tuhanku. Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, Aku tidak suka kepada yang terbenam.
Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, Inilah tuhanku. Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.
Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, Inilah tuhanku, ini lebih besar. Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, Wahai kaumku! Sungguh aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.

Ternyata matahari hanya terlihat di siang hari saja. Bulan dan bintang hanya ada di malam hari. Semuanya tenggelam. Ibrahim tidak suka dengan tuhan yang tenggelam, ia mau Tuhan yang selalu ada pada malam hari dan siang hari dan Tuhan yang selalu hadir di sepanjang waktu.

Akhirnya atas usahanya yang pantang menyerah dalam mencari Tuhan yang sebenarnya tersebut, Allah SWT memberikan hidayah-Nya dan mengabulkan doa nya seperti yang selalu kita baca dalam do'a Iftitah di dalam salat.

QS. Al-Anam (6): 7
Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.

Begitulah seharusnya kita membaca bacaan di dalam salat dengan kepahaman yang dalam, bukan hanya sekedar hafalan yang sekedar lewat tanpa arti dan makna, yaitu dengan mengetahui sejarah dan mencontoh Nabi Ibrahim dalam mencari Tuhan yang menciptakan langit dan bumi ini termasuk yang menciptakan kita, dan cenderung kepada jalan yang lurus, agar menjadi orang-orang yang tidak menyekutukan Tuhan Yang Satu yaitu Allah SWT.

Itulah ajaran ketauhidan yang kisahnya diabadikan di dalam salat dan menjadikan Nabi Ibrahim sebagai nabi yang saleh dan sangat di sayang Allah, serta namanya disebut dalam shalawat berbarengan dengan Nabi Muhammad SAW.

Pergunakanlah akal sehat dan hati yang bersih dalam memahami ciptaan Allah di langit dan bumi, sehingga nantinya Allah akan menyayangi kita seperti sayangnya Allah kepada nabi-nabinya, dan jangan mengikuti sesuatu sekadar ikut-ikutan tanpa menggunakan akal sehat dan hati yang bersih.

Seperti pepatah mengatakan: Tak kenal maka tak sayang, begitu pula Allah ingin hamba-hamba-Nya mengenal-Nya dengan mempergunakan akal dan hatinya sehingga menjadikan hamba-hamba-Nya sebagai orang-orang yang ulul albab yaitu beragama dengan menggunakan akal dan hatinya secara simultan yang nantinya menjadi hamba-hamba yang berserah diri, yaitu orang yang mempunyai kepahaman yang mendalam atas semua aspek kehidupan, bukan orang yang hanya sekadar ikut-ikutan yang hanya membaca dan menghafal ayat-ayat-Nya tanpa arti dan makna.

QS. Ali Imran (3): 190 - 191
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah (dzikrullah) sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan (tafakur) tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari siksa api neraka."



Semoga bermanfaat....wallahu a'lam bishahwab

Salam Hangat,
Hendro Noor Herbanto
Writerpreneur | Entrepreneur | Composer

Ditulis kembali @Cileungsi Bogor - Indonesia, 2 September 2017 / 11 Dzulhijjah 1438 H

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Kontak

Jawa Barat
081807993725 / 08128111963
5667A231
08128111963
heronoor@gmail.com

Jejaring Sosial

© Copyright 2017 Hendro Noor Herbanto. Oleh Webpraktis.com | sitemap