Artikel Populer

Selalu Ada Di Dalam Hatiku

Selalu Ada Di Dalam Hatiku

Admin Selasa, 22 Desember 2015 Tulisanku
Selalu Ada Di Dalam Hatiku

Semua manusia yang berada di belahan bumi manapun berasal dari pertemuan sperma seorang ayah dan ovum seorang ibu yang kemudian menetap selama 9 bulan 10 hari di dalam kandungan masing-masing ibunya untuk menanti saat tibanya dilahirkan sebagai seorang manusia yang baru atau bayi yang lahir secara fitrahnya sebagai makhluk yang suci bersih tanpa noda dan dosa.

Setiap bayi yang terlahir dari rahim seorang ibu ke dunia ini pasti dalam keadaan telanjang bulat. Tak ada sehelai benang-pun yang menutupi tubuhnya.

Pernah terbayang tidak, perjuangan seorang ibu untuk melahirkan kita sebagai anaknya, begitu bersusah payah dan menyakitkan, dan bahkan nyawa-pun siap diambil oleh Yang Maha Kuasa untuk melahirkan kita semua, sang buah hatinya.

Allah menceritakan di dalam Al-Quran, betapa proses tersebut sangat memayahkan, menyakitkan dan penuh perjuangan serta pengorbanan.

QS. Al-Ahqaf (46): 15
"Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia berdoa, "Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada Engkau, dan sungguh, aku termasuk orang muslim."

Ya, setiap ibu pasti akan mengalami proses mengandung dan melahirkan dengan bersusah payah dimanapun seorang ibu itu berada dan tanpa memandang status, suku, agama, ras dan antar golongan.

Setelah ibu melahirkan kita, coba perhatikan perjuangan seorang ibu di dalam merawat, menjaga, mendidik dan mengasihi kita dari saat kita terlahir ke dunia, kemudian usia balita, usia anak-anak, remaja, dewasa dan sampai saat ini saat anda membaca tulisan ini dan sampai kematian yang memisahkan kita dan ibu kita nanti.

Apakah semua proses itu dilakukan seorang ibu dengan pamrih atau meminta imbalan atas jasanya layaknya profesional meminta balasan atas jasa yang sudah diberikan?

Jelas tidak! Ibu bukan seorang profesional. Ibu adalah ibu yang tulus ikhlas memberikan itu semua tanpa mengharapkan sesuatu apapun dan kepada siapapun selain ridha Allah semata.

Banyak sekali ibu-ibu yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan bekerja keras membanting tulang demi keluarganya atau demi anaknya karena tulang punggung keluarganya (ayah) nya telah tiada.

Sambil menggendong anaknya, ibu tersebut bekerja keras tiada kenal lelah dan berputus asa demi kelangsungan hidup kita sebagai anaknya. Subhanallah, sungguh mulia hatimu ibu.

Kami anakmu sangat berterimakasih kepadamu ibu... yang sudah mengandung dan melahirkan dengan bersusah payah, bahkan bisa jadi nyawamu sebagai pengorbanannya.

Setelah terlahir-pun kami anak-anak mu selalu menyusahkanmu. Di malam hari ibu terbangun hanya untuk memberikan ASI atau mengganti popok kami saat kami menangis karenanya.

Atau saat kami masih balita dan dalam keadaan sakit, engkaulah ibu yang selalu merawat dan mendoakan serta menjaga kami supaya kami lekas sembuh.

Atau saat kita remaja, dimana ibu selalu menunggu dengan harap-harap cemas, karena misalnya kita telat sampai di rumah.

Suka dan duka, jatuh dan bangun, ujian dan cobaan yang silih berganti tidak pernah engkau keluhkan, dan hanya ingin anak-anaknya menjadi anak yang saleh/salehah, berbakti kepada kedua orang tua, agama, nusa dan bangsa serta mendoakan kita semua sebagai anaknya supaya tidak menyekutukan dengan tuhan-tuhan yang lain, seperti yang Lukman contohkan kepada anaknya yang tertulis di dalam Al-Quran:

QS. Lukman (31): 13
"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, "Wahai anakku! Janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar)."

QS. Lukman (31): 14
"Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu."

Ya, bersyukurlah kepada Allah yang sudah memberikan kita hidup dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua kita karena atas peran kedua orang tua kita tersebut kita dapat merasakan hidup di dunia ini agar dapat berbuat kebajikan yang Allah ridhai, terutama peran ibu yang telah melahirkan, merawat dan mendidik dengan tulus ikhlas tanpa pamrih yang selalu beliau berikan dan lakukan yang terbaik dengan sepenuh kasih dan sayangnya di sepanjang masa.

Ya, kasih ibu itu bagaikan matahari yang selalu menerangi dunia. Seperti lagu berikut yang ketika kecil sering kita nyanyikan:

~ Kasih Ibu ~

Kasih ibu kepada beta
Tak terkira sepanjang masa
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai sang surya menerangi dunia

Dan jangan lupa untuk selalu mendoakan kedua orang tua kita di sepanjang hayat kita:
'Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tua ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah menyayangiku semenjak aku kecil'.

Oh, bunda ada dan tiada dirimu....
Kan selalu ada di dalam hatiku....



Semoga bermanfaat....wallahu 'alam bishahwab

Salam Hangat,
Hendro Noor Herbanto

Ditulis @ Cileungsi Bogor - Indonesia, Selasa, 22 Desember 2015

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Kontak

Jawa Barat
081807993725 / 08128111963
5667A231
08128111963
heronoor@gmail.com

Jejaring Sosial

© Copyright 2017 Hendro Noor Herbanto. Oleh Webpraktis.com | sitemap