Artikel Populer

Terima Kasih

Terima Kasih

Admin Senin, 26 Oktober 2015 Tulisanku
Terima Kasih

Kita hidup di dunia ini pada dasarnya bukan untuk hidup sendirian, sebagai makhluk sosial, ada orang lain di sekitar kita seperti: orang tua, ayah, ibu, kakak, adik, keluarga, saudara, teman, sahabat, tetangga, tetangga di satu RT atau di RW lainnya, suku-suku, bangsa-bangsa, dan negara-negara di seluruh dunia, baik yang sudah di kenal maupun belum dikenal sama sekali oleh kita.

Negara Indonesia pun juga mempunyai teman dan sahabat dari tetangga ASEAN, seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Singapura, Vietnam, Myanmar, Banglades dan lainnya.

Ada juga yang berasal dari Benua Asia seperti China, Jepang, Korea, India, Arab Saudi dan lainnya. Ada yang berasal dari negara-negara di Benua Eropa, Afrika, Australia dan Amerika.

Dalam Al-Qur'an pun kita disarankan untuk saling kenal mengenal diantara suku-suku dan bangsa-bangsa yang ada di dunia ini:

QS. Al-Hujarat (49): 13
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Sesungguhnya Tuhan menciptakan manusia dengan modal dasar yang sama, yaitu punya otak untuk berpikir, punya telinga untuk mendengar, punya mata untuk melihat, punya hati untuk merasakan dan lain sebagainya.

Selain modal dasar manusia dibekali lagi dengan 2 macam takdir.

Yang pertama adalah Takdir Qadar, yaitu takdir yang diberikan Tuhan, tanpa ada campur tangan manusia didalamnya, murni atas kehendak Tuhan semata, seperti: kita terlahir sebagai perempuan atau laki-laki; kita dilahirkan dari orang tua yang berkebangsaan Indonesia atau berkebangsaan lainnya di dunia; kita terlahir dari orang tua yang sudah kaya atau masih miskin; kita terlahir normal atau cacat; kita dilahirkan di jaman dahulu atau sekarang; kita terlahir dengan warna kulit putih, kuning langsat atau hitam; dan kita terlahir dengan mata besar, sedang atau sipit; serta lain sebagainya.

Yang kedua adalah Takdir Qadla, yaitu takdir yang diberikan Tuhan kepada seseorang yang dibarengi dengan 'usaha/ikhtiar' orang tersebut untuk mau merubahnya ke arah yang lebih baik atau sebaliknya ke arah yang lebih buruk. Seperti yang tadinya seseorang terlahir dari orang tuanya yang 'belum berserah diri' dan atas usaha orang tersebut mencari hidayah akhirnya atas izin Tuhan, orang tersebut menjadi 'berserah diri' atau sebaliknya. Atau yang tadinya kehidupan ekonominya serba pas-pasan, akhirnya atas usahanya yang gigih berkerja tanpa kenal menyerah ia berhasil merubah keadaan ekonominya menjadi orang yang berpunya secara ekonomis atau sebaliknya. Atau yang tadinya terlahir sebagai seorang yatim piatu atau seorang yang cacat, atas usahanya untuk merubah keadaan yang lebih baik yaitu dengan menikah dan akhirnya mempunyai anak-anak yang tidak lagi yatim piatu dan terlahir normal (tidak cacat lagi) atau sebaliknya, dan contoh lainnya.

Di dalam diri setiap orang, terdapat dorongan untuk meraih kesuksesan di dalam hidupnya dengan memilih dan menggabungkan berbagai cara, seperti: gairah, kerja keras, bakat dan kesempatan. Namun meraih kesuksesan bukan hanya di dorong dari individu saja, tetapi kesuksesan bergantung pada cara kita dapat berinteraksi dengan orang lain.

Di dalam interaksinya dengan orang lain, sikap-sikap individu sebagian besar orang, dapat dimasukkan dalam tiga kelompok, yaitu: penerima, penyeimbang dan pemberi.

Seorang 'Penerima' berusaha mendapatkan sebanyak mungkin penerimaan dari orang lain. Sedangkan seorang 'Penyeimbang' berusaha untuk mendapatkan hasil yang sama rata. Dan seorang 'Pemberi' adalah salah satu jenis manusia yang sangat langka yang hanya memberi tanpa mengharapkan imbalan apapun dari orang lain.

Ucapan kata 'terima kasih' adalah ucapan yang merangkum semuanya. Dua kata tersebut selain berpasangan juga saling berlawanan. Kedua kata tersebut jika di jumlahkan akan saling meniadakan alias kosong (0) atau sering disebut dengan ikhlas.

Contohnya:
  • Jika kata "kasih" kita analogikan dengan angka 1 (tangan di atas)
  • Jika kata "terima" kita analogikan dengan angka -1 (tangan dibawah)
Maka kalimat 'terima kasih' menjadi:

1 - 1 = 0

Ada istilah tangan diatas (1) lebih baik daripada tangan dibawah (-1). Keikhlasan (0) seseorang adalah pada saat dia memberi, dia tidak mengharapkan apapun dari penerima, selain daripada ridha Tuhan semata.

Tangan di atas ini yang dicontohkan oleh alam semesta kepada makhluk yang bernama manusia.

Ada yang memberikan sinarnya secara terus menerus sepanjang waktu tanpa kenal lelah yaitu sang matahari.

Ada yang memberikan petunjuk arah pada malam hari bagi para nelayan yaitu bintang-bintang. Sang bintang pun sering di jadikan perandaian oleh manusia untuk meraih mimpi yang tinggi.

Ada yang menjadi pencatat semua perbuatan manusia selama kurang lebih 30 hari di muka bumi ini yaitu sang rembulan. Sang bulan pun berperan penting bagi pasang surutnya air laut.

Ada yang menjadi tempat lahir, tempat tinggal, tempat hidup dan tempat mati semua manusia yaitu bumi. Bumi berputar pada porosnya (berotasi) yang mengakibatkan malam hari buat beristirahat dan siang hari buat berusaha. Bumi pun berputar mengelilingi matahari (berevolusi) dalam satu kali putaran sebanyak 365 hari atau satu tahun.

Ada yang menjadi makanan dan minuman bagi semua manusia yaitu binatang dan tumbuhan, dimana mereka menghasilkan daging, ikan, telur, susu, sayur mayur, buah-buahan dan lain sebagainya.

Ada juga yang menjadi tanah, air, udara dan api. Dimana ke empat unsur tersebut sangat dibutuhkan semua manusia untuk kelangsungan hidupnya di dunia.

Ya, seharusnya kita inilah yang harus banyak mencontoh pada alam, berkaca pada alam dan lebih banyak memberi manfaat bagi orang-orang yang butuh pertolongan kita, juga memelihara, merawat dan menjaga kelestarian alam, sehingga kita bisa bersinergi bersama dalam harmoni kehidupan yang hakiki.

Seperti lagu berikut ini yang sering di nyanyikan sewaktu kita kecil:

Kasih Ibu

Kasih ibu kepada beta
Tak terkira sepanjang masa
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia
----

Hidup di dunia ini hanyalah hidup yang sementara saja. Hidup dengan permainan dan senda gurau belaka. Hidup yang sebenarnya adalah hidup di alam akhirat yang kekal abadi berupa surga yang penuh kenikmatan ataukah neraka yang penuh kesengsaraan.

Hidup adalah pilihan. Pilihlah hidup yang menghantarkan kita ke surga akibat dari perbuatan yang membawa kebenaran, kebaikan dan kemanfaatan. Bukan yang menghantarkan kita ke neraka akibat dari perbuatan yang membawa kesalahan, keburukan dan kemudharatan.

Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain dan seluruh alam.

Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah. Pilihlah yang terbaik bagi hidup kita yang hanya sementara di muka bumi ini, agar tujuan kita kembali kepada Tuhan seluruh alam dengan hati yang puas lagi ridha dan diridhai oleh-Nya.

Dan "terima kasih" bagi yang sudah memberi arti bagi hidup ini dengan memilih peran protagonis daripada memilih peran antagonis di panggung sandiwara dunia ini. Bagi yang belum memberi arti, masih banyak kesempatan untuk melakukan yang terbaik di sisa usia kita yang entah kapan, dimana, bagaimana dan sedang melakukan apa kita nanti pada saat maut menjemput kita alias mati.

Hidup di dunia ini hanya sekali....
Lakukanlah yang terbaik dengan penuh arti....
Sesudah itu kita semua pasti akan mati....

Semoga bermanfaat....wallahu 'alam bishahwab

Salam hangat,
Hendro Noor Herbanto
Penulis | Komposer | Praktisi Perbankan

Ditulis @ Cileungsi Bogor - Indonesia
14 September 2015

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Kontak

Jawa Barat
081807993725 / 08128111963
5667A231
08128111963
heronoor@gmail.com

Jejaring Sosial

© Copyright 2017 Hendro Noor Herbanto. Oleh Webpraktis.com | sitemap