Artikel Populer

Yang Manakah Warna Pelangimu?

Yang Manakah Warna Pelangimu?

Admin Kamis, 08 Juni 2017 Tulisanku
Yang Manakah Warna Pelangimu?



Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir.
QS. Al-Jatsiyah (45): 13


Sesungguhnya pada penciptaan alam semesta terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mau mengambil pelajaran.

Kali ini kita sama-sama belajar tentang fenomena warna pelangi yang terbentuk dari sinar putih matahari.

Beberapa ayat dalam Al-Qur'an yang dijadikan perumpamaan adalah:

QS. Yunus (10): 24
Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu hanya seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit,lalu tumbuhlah tanaman-tanaman Bumi dengan subur (karena air itu), di antaranya ada yang dimakan manusia dan hewan ternak. Hingga apabila Bumi itu telah sempurna keindahannya, dan berhias, dan pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya (memetik hasilnya), datanglah kepadanya azab Kami pada waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman)nya seperti tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. DemikianlahKami menjelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada orang yang berpikir.

QS. An-Nahl (16): 65
DanAllah menurunkan air (hujan) dari langit dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi yang tadinya sudah mati.Sungguh, pada yang demikian itu benar-benarterdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran).

Pelangi terbentuk karena pembiasan cahaya matahari oleh tetesan air yang ada di atmosfir. Saat sinar matahari melewati tetesan air, cahaya tersebut dibelokkan sedemikian rupa dan membentuk gradasi warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu.

Warna pelangi tersebut ternyata bisa menggambarkan keadaan badan atau jiwa seseorang atau yang sering disebut sebagai warna aura yaitu cahaya tipis yang terpancar dari badan seseorang.

Setiap makhluk hidup maupun mati memancarkan aura. Misalnya yang terjadi pada benda mati seperti garam dapur (NaCl). Jika garam dapur kita lemparkan ke dalam api, maka garam yang terbakar akan mengeluarkan percikan cahaya berwarna kuning kemerahan. Kejadian tersebut terjadi akibat lompatan energi di dalam struktur atomnya. Jadi warna aura garam adalah kuning kemerahan.

Begitu pula dengan CO2, jika diubah menjadi sinar laser akan menghasilkan cahaya merah atau aura dari CO2 adalah warna merah. Dan contoh lainnya.

Aura terjadi karena adanya lompatan energi atau tegangan listrik tertentu yang dimasukkan ke dalam struktur atomnya.

Lalu bagaimana dengan aura yang ada pada manusia? Badan manusia terdiri dari materi (benda mati) dan makhluk hidup yang menyimpan potensi aura. Aura padabenda matisebagai tubuh manusia, menggambarkankeseimbangan susunan atom dan molekulnya (keseimbangan fisik). Sedangkan aura pada benda hidup menggambarkan kondisi kejiwaan seseorang atau keseimbangan sistem energi dalam tubuhnya (keseimbangan psikis).

Pada keseimbangan fisik, pola aura biasanya berkaitan erat dengan kondisi kesehatan. Pada orang yang sakit pola aura di beberapa bagian tubuh tidak beraturan. Dan pada orang yang sehat, pola auranya terbentuk sempurna di ujung-ujung jari tangannya.

Pada keseimbangan psikis, biasanya pola auranya dapat dilihat pada wajah seseorang dan berkaitan erat dengan kondisi kejiwaannya. Tehnik yang sering digunakan untuk melihat aura adalah dengan foto aura.

Warna-warna pada foto aura ternyata memiliki kesamaan dengan gradasi warna pelangi yang jika dicampur menjadi satu akan kembali ke asalnya yaitu warna sinar matahari yang menghasilkan warna putih.

Berikut ini tingkatan gradasi warna aura yang menggambarkan tingkatan kondisi kejiwaannya, bahkan tingkatan spiritualitasnya.

Aura warna MERAH menggambarkan "Ego" seseorang yang paling tinggi. Mementingkan diri sendiri, sering marah-marah, iri, pendengki, pendendam, posesif adalah tipikalnya atau bisa dikatakan juga dengan kondisi yang selalu memperturutkan hawa nafsu jahat.

Warna JINGGA ke warna KUNING menunjukkan pergeseran dari sifat individualistik ke arah sosial. Menggambarkan tipikal orang yang semakin ramah dan mudah bergaul dari sifat yang sangat egois.

Aura HIJAU menggambarkan kondisi ego seseorang yang semakin rendah dan bergeser menjadi pribadi yang dermawan, peduli dan empati kepada orang lain serta suka monolong.

Jika punya harta ia akan menolong dengan bersedekah kepada yang membutuhkan. Jika punya ilmu ia akan membagikan ilmunya kepada siapapun. Jika ia orang yang berkuasa maka ia akan amanah, adil dan membantu serta melayani rakyatnya dengan bijaksana.

Tingkatan selanjutnya adalah warna BIRU, yang menggambarkan semakin rendahnya ego seseorang. Sabar dan ikhlas adalah tipikal orang yang punya aura ini. Suka merenung dan mencari jati diri serta hakikat dari kehidupan dunia yang fana ini. Jika punya ilmu ia akan mengajarkan ilmunya sehingga ilmunya bisa menjadi perubahan bagi orang-orang di sekitarnya ke arah yang lebih baik lagi.

Tingkatan aura selanjutnya adalah warna NILA dan UNGU. Tipikal orang yang mempunyai aura ini adalah meninggalkan tujuan-tujuan yang bersifat pribadi menuju keseimbangan sosial bagi kemaslahatan orang banyak.

Contohnya jika ia punya banyak harta hasil dari bekerja keras, hartanya tersebut tidak untuk kebahagiaan dirinya, akan tetapi ia ingin membahagiakan orang-orang yang lebih membutuhkan uluran tangannya seperti menolong orang sakit, orang yang menderita dan kurang beruntung, anak-anak yatim dan piatu, kaum dhuafa dan sebagainya.

Jika ia orang yang berkuasa maka ia ingin membentuk masyarakat yang adil dan makmur dan berjiwa sosial. Dan jika ia orang yang berilmu, ia ingin mengabdikan ilmunya buat mencerdaskan bangsa.

Dan puncaknya adalah warna PUTIH yaitu hasil peleburan dari warna pelangi tersebut di atas. Orang-orang yang mempunyai tipikal ini adalah orang-orang yang bisa mengendalikan sifat-sifat/karakter kemanusiaannya berubah menuju kepada sifat-sifat/karakter Ketuhanan.

Dari tujuan yang berorientasi kemanusiaan yaitu dari ego pribadi menuju jiwa sosial dan akhirnya melebur jadi satu kepada tujuan yang bersifat Ilahiyah (Ketuhanan) dan hanya untuk berserah diri kepada Sang Pencipta, Allah SWT. Menjadikan ibadah apapun yang ia kerjakan karena Allah semata.

QS. Al-An'am (6): 162
Katakanlah (Muhammad),"Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam,

Rasulullah Saw pun berpesan kepada kita semua bahwa, "Belum sempurna Islam seseorang, sehingga ia bisa menundukkan hawa nafsunya."

Dan di bulan Ramadan inilah kita melatih diri dengan berpuasa untuk menundukkan hawa nafsu yang beragam warnanya tersebut menuju kepada "cahaya putih" layaknya bayi yang baru dilahirkan suci, putih dan bersih tanpa noda maupun dosa.


Semoga bermanfaat.wallahu alam bishshawab

*Sumber Buku: Untuk Apa Berpuasa. Agus Mustofa. 2004. Surabaya. Padma Press.

Ditulis @Cileungsi Bogor, 8 Juni 2017 / 13 Ramadan 1438 H


Jika artikel ini bermanfaat, sila dibagikan dan marilah kita semua sama-sama belajar dan berproses serta berlomba-lomba dalam menyebarkan pesan kebenaran dan kebaikan kepada seluruh alam.


Artikel lainnya:

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Kontak

Jawa Barat
081807993725 / 08128111963
5667A231
08128111963
heronoor@gmail.com

Jejaring Sosial

© Copyright 2017 Hendro Noor Herbanto. Oleh Webpraktis.com | sitemap