Artikel Populer

Yang Pasti Dalam Hidup Ini

Yang Pasti Dalam Hidup Ini

Admin Rabu, 16 Agustus 2017 Tulisanku
Yang Pasti Dalam Hidup Ini

Kehidupan seseorang di dunia adalah kehidupan yang sementara saja, hidup dengan permainan dan penuh dengan senda gurau belaka. Hidup yang sebenarnya adalah hidup di alam akhirat yang kekal abadi.

Kita hidup sebanyak dua fase dan mati sebanyak dua fase juga. Hidup kita di dunia sekarang ini adalah fase kehidupan yang pertama setelah fase kematian yang pertama telah kita alami. Kita tadinya tidak ada (fase mati pertama), karena peran orang tua kita akhirnya kita terlahir ke dunia (fase hidup pertama).

QS. Al-Baqarah (2): 28
Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu, lalu Dia menghidupkan kamu kembali. Kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan.

Kita masih menunggu kematian yang kedua (fase mati kedua) yaitu pada saat jiwa kita terlepas dengan raga pada peristiwa 'sakratul maut'. Kapan datangnya, dimana kejadiannya dan sedang berbuat apa kita saat itu, kematian siap menjemput kita tanpa kita bisa menolaknya, mengulur atau mempercepat waktunya. Tak ada tawar menawar apalagi suap menyuap terhadapnya.

QS. Al-A'raf (7): 34
Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.

Setelah itu jiwa kita akan menunggu di alam berdimensi yang berbeda yaitu di alam barzakh, menunggu saat peristiwa hari kiamat, kemudian semua manusia bersama-sama dihidupkan kembali (fase hidup kedua) untuk dikumpulkan dan dihisab atas semua perbuatannya di dunia dahulu.

QS. An-Nahl (16): 111
(Ingatlah) pada hari (ketika) setiap orang datang untuk membela dirinya sendiri dan bagi setiap orang diberi (balasan) penuh sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya, dan mereka tidak dizalimi (dirugikan).

Ya, sudah siapkah kita akan kematian yang datangnya secara tiba-tiba? Sudah siapkah kita akan kematian, jika amalan kebaikan tidak pernah atau jarang kita kerjakan, malahan amal kejahatan yang sering kita kerjakan? Atau sudah siapkah kita akan kematian, padahal kita tidak juga mau diuji dan dicoba oleh-Nya?

Sudah siapkah kita meninggalkan keluarga yang kita cintai. Ya, kematian tidak pernah peduli apakah nantinya akan meninggalkan keluarga dalam keadaan menderita. Anak-anak yang masih kecil dan butuh perhatian. Istri yang tak lagi berdaya menafkahi keluarga. Atau orang tua yang kehilangan anaknya sebagai tulang punggung keluarga.

Atau sudah siapkah kita meninggalkan keluarga, saudara, teman dan masyarakat yang membenci kita? Karena kita misalnya mati sebagai penjahat yang selalu berbuat kerusakan dan pertumpahan darah di bumi. Atau mungkin mereka merasa senang dengan tawa bahagia akan kematian yang kita alami, karena kepergian kita malah melegakan semua orang.

Tangis dari keluarga, saudara, teman dan masyarakat pun rasanya tak berarti apa-apa lagi saat kita sudah menjadi jenazah.

Ya, karena kita yang akan meninggal, disibukkan oleh urusan kita sendiri. Bahkan yang kita takutkan adalah saat kita dijemput oleh malaikat maut yang tidak pernah kita lihat selama ini, membayangkan bentuk dan wajahnya pun kita tidak pernah tahu.

Ya, begitu sangat menakutkan dan menyakitkan saat berhadapan dengan malaikat pencabut nyawa, terutama bagi orang-orang zalim yang akan dipukul dengan tangannya seraya berkata, "Keluarlah nyawamu, wahai orang zalim!"

QS. Al-An'am (6): 93
.... (Alangkah ngerinya) sekiranya engkau melihat pada waktu orang-orang zalim (berada) dalam kesakitan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), "Keluarkanlah nyawamu." Pada hari ini kamu akan dibalas dengan azab yang sangat menghinakan, karena kamu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.

Rasulullah SAW melarang kita untuk menangisi dan meratapi kematian orang yang kita cintai secara berlebihan, karena itu menandakan kita tidak ikhlas atas kepergiannya, tidak bisa beriman dengan baik dan tidak bertakwa kepada-Nya serta tidak menerima ketetapan Allah tersebut dengan baik.

Cobalah Anda tanyakan pada diri sendiri, sebenarnya kita menangis buat siapa? Apakah merasa kasihan terhadap orang yang meninggalkan kita ataukah kasihan terhadap diri kita sendiri yang ditinggal oleh orang yang kita sayangi?

Kebanyakan jawabannya adalah kasihan terhadap diri kita sendiri. Merasa kehilangan. Takut untuk hidup seorang sendiri. Takut tidak ada lagi yang menafkahi. Merasa kecewa karena kebahagian yang selama ini kita rasakan menjadi terputus. Tidak ada lagi yang bisa dijadikan sandaran dan alasan lainnya.

Padahal, bisa jadi kematian itu sebenarnya pembebasan bagi yang meninggal. Misalnya karena sakit keras yang sudah berlangsung bertahun-tahun lamanya. Atau hidup dalam penderitaan dan teraniaya.

Atau karena memang tugas hidupnya di dunia sudah selesai. Sudah menghantarkan anak-anaknya menjadi dewasa, berkeluarga dan sukses semua. Karya-karyanya sudah banyak menginspirasi dan membawa manfaat bagi semua orang dan alam sekitar.

Sudah berhasil menjadi ibu dan ayah yang baik yang telah mendidik anak-anaknya menjadi anak yang saleh dan salehah, berakhlak mulia, berbakti kepada kedua orang tua, agama dan bangsa.

Untuk itu, sudah sepantasnyalah ia 'kembali' kepada Sang Pencipta dengan akhir yang baik. Apalagi yang perlu kita tangisi?

Ya, kasihanilah kematian seseorang karena ia telah tersesat dari jalan yang lurus dan akan menerima konsekuensinya akibat perbuatan buruknya selama ini.

Jadikanlah kematian sebagai pengingat kita akan kehidupan selanjutnya (surga atau neraka).

Sikapilah kematian secara bijaksana dan jangan berlebihan menangisi kepergian orang yang kita cintai, karena jika ia orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan serta saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, insyaallah ia mati dalam keadaan jiwa yang tenang dan khusnul khotimah serta siap berada di dalam surga yang penuh kenikmatan. Ia kembali kepada Allah dengan hati yang puas lagi ridha dan di ridhai-Nya.

QS. Al-Fajr (89): 27 - 30
Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.

Hanya tiga perkara amal kebajikan yang terus mengalir kepada orang yang sudah tiada, yaitu:
  1. Amal jariah
  2. Ilmu yang bermanfaat
  3. Anak saleh/salehah yang selalu mendoakan kedua orang tuanya

Hidup di dunia hanya sekali. Maknai ia dengan penuh arti. Sesudah itu kita-pun bakal mati. Menunggu balasan di akhirat yang tengah menanti.

QS. Al-Ankabut (29): 57
Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan.

Ya, lawan kata dari hidup adalah mati. Dan yang pasti dalam hidup adalah mati.

Semoga bermanfaat. Wallahu 'alam bishahwab.

Sumber Foto: Dok Pribadi
Sumber Video:Youtube


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Kontak

Jawa Barat
081807993725 / 08128111963
5667A231
08128111963
heronoor@gmail.com

Jejaring Sosial

© Copyright 2017 Hendro Noor Herbanto. Oleh Webpraktis.com | sitemap